Hikmah kalimat si wanita tidak waras

30 Apr 2026

Si Komo Part I

 “Sudah jatuh tertimpa tangga.”

Barangkali peribahasa itulah yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi keluarga si Komo saat ini.

Di sudut rumah itu, kini selalu terdengar isak tangis pilu. Ya, itulah suara Ibu Komo yang tak henti-hentinya meratapi musibah yang tengah menimpa keluarganya. Ia merasa tak lagi mampu berbuat apa-apa setelah menelan pil pahit kekecewaan yang justru datang dari saudaranya sendiri.

Kelelahan? Ya.

Kesedihan? Tentu.

Terpukul? Sangat.

Kesal? Teramat sangat.

Rumah yang dahulu dipenuhi canda dan tawa kini terasa sunyi, seakan setiap sudutnya turut menyimpan luka. Komo hanya mampu menghela napas panjang setiap kali melihat kedua orang tuanya termenung, tak lagi seceria seperti dahulu.

“Mak, makanlah. Sejak kemarin Emak belum menyentuh nasi yang Komo hidangkan,” lirih Komo membujuk, berharap ibunya bersedia menyuap walau hanya beberapa sendok.

“Nak, Emak minta maaf kepada kalian. Jika selama ini Emak dan Bapak ada salah dalam mendidik kalian...” rintih sang ibu sembari menyapu butiran air mata yang perlahan jatuh di pipinya.

Komo terdiam. Dadanya sesak menahan pilu. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan genangan air mata yang mulai mengaburkan pandangannya. Dalam diam, ia menahan luka yang sama, meski tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya.

Bahkan, sempat terlintas di benaknya keinginan untuk menempuh jalan pintas, melampiaskan amarah, dan membalas semua luka yang telah ditorehkan. Namun, meskipun dadanya dipenuhi kemarahan dan kekecewaan yang begitu mendalam, Komo masih sangat mengingat pesan-pesan serta nasihat gurunya: dendam dan keinginan untuk membalas bukanlah tindakan yang terpuji. Semua itu hanyalah perkara sia-sia dalam pandangan Allah.

Karena itu, untuk saat ini Komo hanya bisa berserah diri kepada-Nya, seraya terus menguatkan keluarganya agar tetap tabah, sabar, dan ikhlas menghadapi ujian yang sedang Allah titipkan kepada mereka. Meski luka itu belum sembuh, Komo percaya bahwa setelah kesulitan ini, akan selalu ada jalan keluar yang telah Allah siapkan pada waktunya.

20 Apr 2020

Nasehat Si Wanita Gila

Oleh: QS


Saat itu aku pergi untuk membeli kitab kuning di pasar yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Sesampainya di pasar, mulai terdengar para dari para pedagang untuk menarik minat pembeli.

Ketika saya hampir sampai di toko kitab, terdengar suara seorang wanita paruh baya dari belakang. Menurut orang-orang, wanita itu mengalami gangguan kejiwaan.

Memang, penampilan dan kondisinya sekilas tampak seperti apa yang dibicarakan orang. Saat itu, ia sedang berkeliling meminta sedekah kepada para pembeli dan pedagang di sekitar pasar. Saya pun tak luput dari sasarannya.

Dengan perasaan takut, saya berusaha bersikap acuh dan tidak menghiraukan permintaannya. Namun, ada satu kalimat yang keluar dari lisannya hingga membuat saya terkejut dan spontan menoleh ke arahnya.

Ia berkata:

"Aa, minta sedekahnya dong. Seribu juga boleh, dua ribu juga boleh. Nanti dibalas dua puluh ribu loh, Aa."

Kalimat itu ia ulangi berkali-kali dengan suara lirih khasnya. Meski demikian, saya tetap berusaha mengabaikannya sambil terus melangkah menuju toko kitab, hingga akhirnya ia pun berlalu.

Sesampainya di toko kitab langganan, ternyata kali itu yang menjaga adalah seorang ibu. Entah beliau istri pemilik toko yang biasa saya temui atau bukan.

Rupanya, ibu tersebut melihat kejadian ketika saya dihampiri wanita tadi. Ia berkata kepada saya, kurang lebih seperti ini:

"Jangan diladeni. Memang begitu, kalau dikasih suka minta lagi."

Secara spontan, wanita paruh baya itu menoleh ke arah si ibu penjual kitab sambil berkata dengan nada tinggi:

"Huy, ngomongin orang terus. Dia mah enggak suka diomongin."

Seketika saya tersentak dan sangat terkejut.

Bukan karena jarak antara wanita itu dengan si ibu yang cukup jauh, sekitar enam meter, ditambah suara si ibu yang sangat pelan ketika berbicara kepada saya. Akan tetapi, kalimat wanita itulah yang begitu membekas dalam ingatan saya hingga sekarang.

Dari peristiwa tersebut, tanpa saya sadari, saya memperoleh dua pelajaran berharga.

1. Sedekah akan melipatgandakan rezeki

Ucapan wanita itu seolah mengingatkan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, justru Allah akan melipatgandakannya.

Satu dibalas sepuluh, seribu bisa menjadi sepuluh ribu, dua ribu bisa menjadi dua puluh ribu, dan itu baru gambaran minimalnya.

2. Jangan mengotori lisan dengan menggunjing orang lain

Seburuk apa pun seseorang menurut pandangan kita, jangan sampai lisan ini tergelincir untuk membicarakan keburukannya.

Sebab, kita pun tentu tidak suka apabila keburukan kita dibicarakan oleh orang lain.

Betapa warasnya wanita yang dianggap tidak waras itu.

Masya Allah.

Pinjamkanlah harta kita kepada Allah melalui jalan sedekah

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan berlipat ganda yang banyak."

(QS. Al-Baqarah: 245)

Bahaya menggunjing sesama saudara

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang."

(QS. Al-Hujurat: 12)

Saya juga perlu meluruskan satu hal kecil: hikmah dari kisah ini kuat, tetapi jangan dijadikan dasar untuk memaknai sedekah secara matematis pasti “seribu dibalas sepuluh ribu.” Inti ayatnya adalah balasan Allah bisa berlipat dengan bentuk dan waktu yang Dia kehendaki—bisa berupa harta, kemudahan, keberkahan, atau terhindar dari musibah. Itu membuat pesannya lebih tepat secara makna.

Si Komo Part I

 “Sudah jatuh tertimpa tangga.” Barangkali peribahasa itulah yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi keluarga si Komo saat ini. Di sud...